Al Akbar(Mbah Marzuki, Muadzin Pertama dan Tertua MAS)
November 9, 2008
‘Ya Allah, jadikan saya selalu senang ngramut masjid njenengan…’
Senyum sumringah terpancar dari raut wajahnya yang telah mengeriput. Dengan badan yang setengah membungkuk, tiap hari ia mengayuh sepeda ontel mininya untuk mendedikasikan hidupnya, tenaga dan fikirannya ke Masjid. Adalah Mbah Marzuki, karyawan MAS (Masjid Al Akbar Surabaya) berusia 75 tahun yang insya Allah selalu bisa kita jumpai di setiap kajian-kajian yang diselenggarakan MAS.
Tak hanya itu, Mbah Marzuki juga muadzin pertama Masjid Al Akbar. Dulu, sebelum Masjid Al Akbar jadi semegah ini, setiap kali adzan ia membawa corong dan aki untuk adzan. Pernah suatu ketika hendak sholat jamaah maghrib lampu mati. Mbah Marzuki pun lari terbirit-birit meminjam lampu petromak di PKL dekat masjid. Sungguh luar biasa, karena hal itu dilakukan jauh sebelum masjid ini jadi (masih setengah jadi) jadi minim sekali fasilitas. Yang lebih hebat lagi, ia melakukannya jauh sebelum ia diangkat jadi karyawan. Tidak menerima gaji.
Jangan heran, di usianya yang sudah senja itu, selain karyawan MAS, ia juga masih aktif jadi guru ngaji di sana-sini. Beberapa di antaranya di masjid Terminal Bungurasih dan IAIN. Ya, mbah Marzuki masih mampu mengajar mengaji. Bahkan untuk membaca Qur’an ukuran kecil pun, ia bisa dan lancar, tanpa harus ber kacamata.
”Semua dari Allah. Saya terdorong semangat saya untuk mengabdi atau turut memakmurkan masjid,” tutur Mbah kelahiran Driyorejo Gresik 1933 (tanggalnya lupa). Resepnya? ”Ndak tahu! Semua itu dari Allah”. Yang jelas, tambah Mbah Marzuki, ia memang biasa menghindari rokok dan alhamdulillah puasa Senin-Kamisnya rutin.Sumu tasikhu, berpuasalah kamu maka sehat, itulah pedoman sehat mbah Marzuki.
Tentang adzan, kakek yang suara adzannya pernah direkam dan diputar di masjid-masjid ternama di Surabaya ini, memulai adzan sejak tahun 1951. Pernah suatu hari adzan di masjid Ulul Albab IAIN Surabaya di lantai dua dikira orang muda. Mahasiswa nyeletuk, ”Lho tadi bapak yang adzan to? Saya kira orang muda adzan di atas, iqomah di bawah.”.
Olahraga? ”Saya rasa sholat saya itu ya olahraga saya.” Apalagi ditambah lagi ngontel setiap hari. Ia mengaku setiap kali ngontel selalu diiringi rasa riang, sebab kalau tidak yang muncul pasti rasa malas.
Mbah pun selalu menjaga wudhu. Setiap kali batal, kalau ada air pasti wudlu lagi. Dengan keriput yang semakin tabal, wajahnya masih saja bersinar. Senyumnya tetap sumringah. Sapa mendayu. Tenang dan teduh rasanya setiap kali bertemu dengan mbah Marzuki.
Dihajikan Jamaah
Tidak pernah terbayang sebelumnya, lelaki yang pernah jualan tahu tek, es kacang ijo dan nasi goreng ini naik haji pada tahun 2005. Kejadian itu pun menjadi fenomenal. Penjual nasi goreng bisa naik haji. Atas izin Allah, ada jamaah yang melihat dedikasi Mbah Marzuki, kemudian urunan untuk memberangkatkan haji beliau.
Ketika berhaji ia pun masih tetap adzan.”Subhanallah, saking senengnya setiap adzan saya get-getkan suara saya selantang mungkin,” begitu kata Mbah penuh semangat. Di tanah suci, juga di di tempat-tempat yang mustajabah ia khususkan khusyuk berdoa, mendoakan kesembuhan isterinya yang waktu itu sakit kanker payudara. Ia menangis pasrah, sebab menurut logika, kesembuhan terasa sulit. Komplikasi kanker dan diabetes menjadikan paradoks. kanker harus banyak makan, sedangkan diabetes makan harus dibatasi.. Namun Alhamdulillah, sepulang dari haji ia kaget dan menangis haru, istrinya sehat dan bahkan bisa menjemputnya. Sungguh sebuah pertemuan yang luar biasa indah.
Tentang kebetahannya di masjid, ia berkomentar, ”Masjid saya kampus saya. Selalu hadir di setiap pengajian dan mencoba selalu menyampaikannya ke orang lain. Dari situ saya bisa tiap hari belajar tentang banyak hal” kata mantan pelantun tembang-tembang keroncong dan campursari tahun 70-an. Ia pun merasa tak pernah puas. ”Kalau Allah ridho, saya ingin mengabdi lebih lama lagi di masjid. Tapi jika Allah menghendaki saya selesai, saya ingin waktu itu saya sedang beribadah di masjid,” yang seperti membuktikan bahwa sosok Mbah Marzuki adalah sebagian kecil bukti bahwa orang yang menolong agama Allah, pasti akan ditolong oleh Allah.
”Ya Allah jadikan saya selalu senang ngramut masjid njenengan…” secuil bait doa yang tiap hari dipanjatkan oleh Mbah Marzuki. Ya, ngramut masjid adalah sebuah bentuk pengabdian dan perbuatan yang insya Allah bisa mengantarkannya menggapai ridho-Nya. (*)